Kegiatan pencerapan bahasa yang mengambil tema Jalinan Kebinekaan Bahasa Daerah di Wilayah Indonesia Tengah dilaksanakan di Aula Balai Bahasa Provinsi Bali mulai tanggal 24—27 April 2015. Kegiatan ini merupakan kegiatan pertemuan para tim peneliti Linguistik Historis Komparatif dari berbagai Balai/Kantor Bahasa yang termasuk ke dalam wilayah Indonesia Tengah yang berupa pelatihan dan peningkatan SDM para peneliti yang akan mengkaji bahasa dengan pendekatan linguistik historis komparatif.

Kegiatan ini bertujuan untuk menyamakan persepsi di antara peneliti agar ada keseragaman arah penelitian bahasa daerah di wilayah Indonesia Tengah dalam upaya menelusuri jejak hubungan keseasalan bahasa-bahasa daerah di Indonesia dengan Proto Austronesia. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para peneliti dalam menganalisis dan menetapkan kaidah-kaidah perubahan fonologis pada bahasa-bahasa daerah yang berkerabat.

Terdapat tiga orang pakar yang menjadi narasumber kegiatan ini, yaitu Prof. Dr. Aron Meko Mbete dari Universitas Udayana, Dr. I Gede Budasi, M.Ed. dari Universitas Pendidikan Ganesha, dan Dr. Syarifuddin dari Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Masing-masing narasumber menyajikan materi yang sangat bermanfaat bagi penelitian linguistik historis komparatif, mulai dari materi dasar Pengantar Linguistik Historis Komparatif, Teori dan Metode serta penerapannya, sampai materi kaidah korespondensi fonologis.

Kegiatan yang diikuti oleh tim peneliti LHK dari balai/kantor yang berada di Indonesia tengah ini menghasilkan kesepakatan dalam hal konsep kajian linguistik historis komparatif di antara balai/kantor di wilayah Indonesia Tengah untuk tahun 2015 dan tahun-tahun berikutnya. Kesepakatan yang dihasilkan dalam kegiatan tersebut, dirumuskan sebagai berikut.

  • Konsep kajian bahasa di wilayah homogen untuk tahun ini dan tahun-tahun mendatang, meliputi:
    1. rekonstruksi proto bahasa homogen (secara kuantitatif), yaitu mencari 200 kosakata Swadesh pada semua dialek, menentukan prosentase kekerabatannya berdasarkan klasifikasi bahasa menurut Swadesh, dan menyusun diagram pohon;
    2. rekonstruksi proto bahasa homogen (secara kualitatif), yaitu mencari penyatu dan pemisah antardialek mulai dari prosentase yang tertinggi dan dibandingkan dengan dialek yang lebih dekat setelahnya, menentukan etimon proto bahasa homogen, dan menyusun sistem fonologis dan distribusinya;
    3. inovasi fonologis dan leksikal PAN pada proto bahasa homogen, yaitu membandingkan etimon PAN dengan etimon proto;
    4. perkembangan etimon PAN yang terwaris pada bahasa homogen ditinjau dari sisi bentuk dan makna dalam konteks budaya.
  • Konsep kajian bahasa di wilayah heterogen untuk tahun ini dan tahun-tahun mendatang, meliputi:
  1. rekonstruksi proto bahasa heterogen (secara kuantitatif), yaitu mencari 200 kosakata Swadesh pada semua bahasa, menentukan prosentase kekerabatannya berdasarkan klasifikasi bahasa menurut Swadesh, dan menyusun diagram pohon;
  2. rekonstruksi proto bahasa heterogen (secara kualitatif), yaitu mencari penyatu dan pemisah antarbahasa mulai dari prosentase yang tertinggi dan dibandingkan dengan bahasa yang lebih dekat setelahnya, menentukan etimon proto bahasa heterogen, dan menyusun sistem fonologis dan distribusinya;
  3. inovasi fonologis dan leksikal PAN pada proto bahasa heterogen dan membandingkan etimon PAN dengan etimon proto;
  4. perkembangan etimon PAN yang terwaris pada bahasa homogen ditinjau dari sisi bentuk dan makna dalam konteks budaya.