Banjarongeng, Salah Satu Wujud Eksistensi Duta Bahasa di Bali
Banjarongeng, Salah Satu Wujud Eksistensi Duta Bahasa di Bali

Banjarongeng, Salah Satu Wujud Eksistensi Duta Bahasa di Bali

Paguyuban Duta Bahasa Provinsi Bali kembali menunjukkan kiprahnya dalam berbahasa dan bersastra. Kegiatan Banjarongeng (Banjar Mendongeng) yang merupakan kegiatan rutin paguyuban ini kembali digelar pada Sabtu, 19 September 2015 dan kali ini dilaksanakan di Wantilan Desa Sayan, Ubud dengan menyasar anak-anak usia sekolah dasar.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan pemikiran bahwa apresiasi sastra daerah melalui kegiatan mendongeng pada anak-anak sangat bermanfaat untuk mengembangkan daya pikir dan imajinasi anak, meningkatkan minat baca dan menyimak, serta menanamkan nilai moral dan budaya luhur. Selain itu, yang tak kalah penting adalah kegiatan mendongeng sarat nuansa hiburan bagi anak-anak yang bersifat edukatif dan kreatif.

Menurut penggagas kegiatan, Ayu Indah Carolina dan Made Adi Suadnyana yang merupakan Duta Bahasa Nasional tahun 2014, dongeng berbahasa Bali merupakan salah satu wujud kebudayaan lokal. Pemertahanan budaya tersebut harus dari warga, oleh warga, dan untuk warga Bali. Usaha itu dapat dimulai dengan menciptakan sebuah ruang publik warga yang dapat dimanfaatkan untuk sarana pengenalan budaya dan tentunya memiliki nilai sejarah tersendiri. Balai Banjar yang diterapkan di Bali merupakan salah satu ruang publik yang dianggap mampu mengenalkan budaya lokal kepada masyarakat. Banjar di tengah-tengah masyarakat turut menyertai rasa suka cita anak. Anak dapat secara langsung mempraktikkan kegiatan budaya seperti menari, memainkan alat musik, memainkan permainan tradisional, serta dapat pula mengetahui kegiatan-kegiatan keagamaan, dan tata cara pelaksanaannya di pura-pura sekitar banjar. Kegiatan tersebut dapat memupuk rasa cinta terhadap budaya sendiri. Selain itu, anak dapat memperkuat tali persaudaraan dengan sesamanya.

Kegiatan yang kali ini diketuai oleh Made Gana Hartadi, Wakil II Duta Bahasa Provinsi Bali 2015, adalah bentuk eksistensi Duta Bahasa dalam melestarikan Sastra Bali sehingga Sastra Bali akan tetap lestari dan makin dikenal oleh generasi muda.

Gana menuturkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan penggunaan bahasa Bali sejak dini khususnya pada anak usia sekolah dasar, merevitalisasi kegiatan apresiasi sastra daerah khususnya karya sastra dongeng anak, dan untuk menciptakan sebuah wadah pembinaan karakter atau moral anak melalui karya sastra, yaitu dongeng yang berlandaskan kebudayaan lokal. Di samping itu, Gana juga berharap kegiatan ini dapat rutin dilaksanakan dengan melibatkan lebih banyak peserta.

Sama seperti kegiatan serupa yang sudah pernah dilaksanakan, kegiatan kali ini juga mengundang Bapak Made Taro, salah satu pakar mendongeng di Bali. Kegiatan tidak hanya dengan menyampaikan dongeng dari pakar, tetapi juga melibatkan seluruh peserta dalam permainan tradisional, penunjang dongeng yang disampaikan. Antusias peserta nampak dari ekspresi mereka dalam mengikuti seluruh kegiatan. Pada kesempatkan yang sama juga dilaksakan pembagian buku dari Balai Bahasa Provinsi Bali kepada seluruh peserta serta penyerahan piagam penghargaan kepada Bapak Made Taro dan perwakilan dari Desa Sayan, Ubud.